(+62 31) 568 1315 marketing@sanspower.com

Solar Article

12
Okt

Lapas Porong Ciptakan Lapas Hijau lewat Tenaga Surya

Upaya Lapas Kelas I Surabaya (Lapas Porong) Ciptakan Lapas Hijau lewat Tenaga Surya

Baru 20 Panel, tapi Listrik Sudah Berlebih

Lapas Kelas I Surabaya (Lapas Porong) kembali berinovasi. Lewat laboratorium pangan dan energi, para penghuninya menguji coba listrik tenaga surya. Saat ini, energi listrik yang digunakan untuk pengoperasian laboratorium sudah sepenuhnya renewable.

FAJRIN MARHAENDRA BAKTI

ENERGI TERBARUKAN: Nelson Sembiring (kiri) mengecek panel surya bersama Kabid Tenaga Kerja Lapas Sumardi kemarin.

SELASA pagi (11/10) begitu cerah di Lapas Kelas I Surabaya. Di lapas yang terletak di Desa Kebonagung, Porong, itu matahari bersinar terik. Air sisa gerimis semalam masih bertahan di sela dedaunan. Dari jauh, Gunung Penanggungan terlihat tinggi menjulang.

Anggota keluarga warga binaan lapas terlihat berbondong-bondong ingin membesuk. Ada yang baru mengambil nomor antrean. Warga binaan yang menjalani masa asimilasi terlihat sibuk. Beberapa sibuk merapikan sepeda motor pengunjung. Lainnya merawat tanaman. Ada juga yang sudah sibuk di ruang kerja.

Tak terkecuali di laboratorium pangan dan energi. Seorang berbaju hitam dengan dua setrip merah di bagian dada terlihat mengutak-atik alat elektronik. Dia adalah Nelson Sembiring. Di ruangan yang terletak di belakang sel blok F, tempat narapidana teroris dipenjarakan itu, pria asli Medan tersebut sedang mengecek solar charge controller (SCC). Kotak hitam tersebut adalah salah satu alat untuk memproduksi listrik tenaga surya.

Sebenarnya, teknologi yang memanfaatkan sumber panas matahari sebagai energi utama itu sudah lama diperkenalkan di Indonesia.

Teknologi tersebut sudah banyak digunakan di daerah terpencil dan susah dijangkau. Namun, di Jawa yang sudah bergantung pada listrik dari PLN, tidak banyak yang mengaplikasikan. Apalagi di lapas. “Ini yang pertama di lapas seluruh Indonesia,” klaim Nelson.

Sejak tiga bulan lalu teknologi itu mulai digagas. Sebagai percobaan awal, 20 panel surya berukuran 60 x 120 cm dipasang di atas genting gedung kerja penjahitan. Gedung tersebut terletak tepat di utara laboratorium. Dekat. Gentingnya pun selalu tersinari matahari.

Panel surya menyerap energi dari sinar matahari. Energi listrik lalu dialirkan menuju SCC. Alat dengan tiga lampu indikator berwarna hijau tersebut berfungsi sebagai pengatur aliran listrik sebelum disimpan dalam baterai.

SCC adalah otaknya. Mengatur suplai listrik ke baterai. Agar listrik tidak berlebih serta mencegah kerusakan pada baterai.

Setiap panel menggunakan satu SSC. Sebab, selama sinar matahari terus menyentuh panel surya, selama itu pula listrik terus diproduksi. “Produksi listrik jalan terus. Nah, kalau berlebihan, baterai bisa terbakar,” lanjut pria yang divonis lima tahun penjara karena kasus penggelapan dana hibah Kadin Jatim tersebut..

Setelah itu, listrik tersebut didistribusikan ke dua cabang. Cabang pertama ke lampu LED DC buatan warga Tanjung Perak, Surabaya. Lampu putih tersebut sekaligus sebagai indikator bahwa listrik dari panel surya terus mengalir.

Cabang kedua ke baterai (aki kering) berdaya 150 Ah. Ukurannya cukup besar, seukuran baterai kapal pesiar. Ada tiga baterai yang disediakan. Namun, yang diaktifkan hanya dua. “Dua ini (300 Ah) sudah terlalu besar untuk kebutuhan pembuatan tahu,” ujar bapak dua anak tersebut.

Dengan produksi 2.000 watt dari 20 panel surya yang ada, hanya diperlukan dua jam untuk mengisi dua baterai tersebut secara penuh. Dari baterai, arus listrik DC dialirkan ke inverter.

Fungsi inverter adalah mengubah arus dari 12 V DC ke 220 V AC. Daya output mencapai 3.000 watt. “Kita bisa menggerakkan mesin tahu 750 watt, tiga lemari pendingin yang masing-masing 200 watt, dan alat elektronik yang lain,” jelas doktor lulusan Kyoto University, Jepang, itu.

Dengan inverter tersebut, kira-kira empat jam daya listrik baru habis. Sementara itu, untuk memutar mesin tahu, hanya diperlukan waktu 20 menit. Untuk itu, sekarang sedang dipikirkan bagaimana agar listrik tersebut tidak terbuang sia-sia. “Begitu besar energi kita ini,” beber pria yang sekelas dengan Pramono Anung, sekretaris kabinet, saat menimba ilmu di jurusan pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Nelson belum puas dengan hasil yang ada saat ini. Ke depan, jika 100 panel sudah digunakan semua, hasil listriknya bisa dijual ke PLN. Dengan daya produksi 10.000 watt/ jam, menurut hitungannya, akan dihasilkan pemasukan sebesar USD 15 per hari.

Dia mengakui bahwa sebenarnya untuk biaya produksi, PLN lebih efisien. “Listrik dari PLTS ini harganya Rp 2.200/kilowatt, sedangkan PLN hanya Rp 1.600/kilowatt. Tapi, PLN masih subsidi. Kalau subsidi itu dicabut, kita unggul,” ulasnya.

Menurut dia, masih ada energi yang juga bisa diproduksi secara mandiri. Ke depan, dia menargetkan bisa menghasilkan gas sendiri. “Gas ini nanti digunakan untuk memasak,” ujarnya dengan nada bersemangat.

Gas yang dimaksud pria yang pernah bekerja di perusahaan tambang itu adalah biogas. Bahan utamanya ampas tahu dan limbah dapur. Dengan begitu, tidak ada energi yang terbuang percuma. Untuk itu, dia berharap semakin banyak pihak ketiga yang mau membantu kegiatan di lapas.

Dengan karyanya tersebut, pria yang tiga hari lalu merayakan ulang tahun ke-53 itu mengaku bersyukur. Sejak masuk ke Lapas Porong pada 2015, Nelson bisa mengambil hikmah dari masa hukumannya. Ternyata, di dalam lapas, dia bisa lebih bebas berkarya dan bekreasi. “Semua berkat dukungan dari pihak lapas yang sangat maksimal,” sanjung Nelson.

Kalapas Kelas I Surabaya Prasetyo menuturkan bahwa pihaknya memang berusaha untuk mendukung segala kegiatan positif yang diinisiatori warga binaan. Usaha-usaha untuk mengundang para investor guna memberdayakan warga binaan terus dilakukan. Termasuk dalam hal pemanfaatan listrik energi surya tersebut.

“Kami memanfaatkan energi baru terbarukan sesuai dengan usaha Indonesia untuk 25 persen menggantikan energi total,” ujar Kalapas yang menjabat sejak Januari 2014 itu.

Selain itu, langkah tersebut merupakan bentuk komitmen lapas untuk mulai menggalakkan penggunaan energi terbarukan. Selain itu, energi yang dihasilkan lebih ramah lingkungan. “Penggunaan teknologi ini kan sesuai dengan iklim tropis yang ada di Indonesia,” ujar mantan Kalapas Kelas I Makassar itu.

Untuk itu, pria yang mengawali karir di Lapas Kelas II A Kupang tersebut berharap Lapas Porong bisa sepenuhnya mengaplikasikan solar cell tersebut untuk kebutuhan lapas. Selain itu, lapas-lapas lain bisa mengadopsi hal tersebut. dengan demikian, lapas bisa mandiri dan lebih efisien. “Semoga saja semua orang punya pikiran untuk mengaplikasikan teknologi ini,” harap pria kelahiran pegunungan Dieng, Wonosobo, tersebut. (*/c6/dos)

 

Jawa Pos Metropolis, Rabu, 12 Oktober 2016

Leave a Reply

You are donating to : Greennature Foundation

How much would you like to donate?
$10 $20 $30
Would you like to make regular donations? I would like to make donation(s)
How many times would you like this to recur? (including this payment) *
Name *
Last Name *
Email *
Phone
Address
Additional Note
paypalstripe
Loading...
Ambassador

CARA MEMULAI LANGKAH KECILMU YANG SANGAT BERARTI

menjadi ambassador

Isi form sebagai pernyataan kamu telah ikut
menjadi penggerak perubahan menuju bumi yang lebih baik

menjadi ammbasador 2

Terima kasih kamu sudah menjadi bagian dalam program ini.
Langkah kecilmu sangat bermanfaat untuk
kehidupan saudara lain yang membutuhkan.

ammbassador

Kami akan mengirimkan konfirmasi melalui email
setelah donasi yang kamu berikan berhasil kami terima.

JOIN NOW

×
Inspirator

CARA MEMULAI LANGKAH KECILMU MENJADI INSPIRATOR

 

menjadi inspiratorTerlebih dahulu kamu harus login atau register account
di website kami,

 

pop up-05

Masuk ke menu Area, lalu pilih konten Campaign,
antara lain Solar Card, Solar Motion,
Solar Idea dan Artikel yang kamu suka.

shareShare konten Campaign pilihanmu ke media sosialmu
dan ajak juga temanmu untuk gabung di program ini.

×
Loading...